Jumat, 14 Maret 2014

CINTA YANG SALAH

Kepada para pembaca sekalian, perkenalkan saya bernama lengkap Febriand Bagus Ar ridho,  saya dilahirkan dikota gudeg Jogjakarta pada tanggal 20 februari 1995, saya dibesarkan dalam kehidupan yang berkecukupan. Sekarang saya mengenyam pendidikan di bangku kuliah di salah satu kota di Indonesia. Cerita ini adalah cerita nyata yang saya  alami ketika saya masih mengenyam pendidikan SMP sampai SMA, yang waktu itu saya mengenyam 2 pendidikan tersebut di Malaysia. Dikarenakan waktu itu kedua orang tua masih tinggal disana.

            Sebelum saya memulai cerita ini, saya meminta maaf kepada para pembaca sekalian. Apabila terdapat dalam tulisan ini kesalahan baik itu berupa tulisan atau kata-kata yang kurang pas. Dan harap dimaklumi karena saya adalah penulis yang amatiran. Maka dari itu saya sadar bahwa tulisan ini jauh dari kata sempurna. Dan juga saya berharap kepada para pembaca untuk memberikan masukan kepada saya berupa kritik dan saran yang dapat membuat saya kedepannya menjadi lebih baik lagi.

K
isah ini dimulai pada tahun 2008. Tepat diumurku yang ke-13 tahun. Saya duduk dibangku kelas 3 SMP (sebut saja begitu). Saya bersekolah di salah satu sekolah islam internasional yang berada Malaysia. Sekolah tersebut menggabungkan antara islam dan modern. Kebanyakan dari siswa yang berada di sekolah tersebut adalah mayoritas warga Negara Malaysia, walau terdapat sebagian yang berasal dari Indonesia termasuk saya, dan beberapa yang berasal dari Brunai.  Dan semua siswa yang berada di sekolah tersebut adalah laki-laki tanpa ada sedikitpun perempuan didalamnya. Semua siswa ditempatkan diasrama-asrama yang berbeda-beda sesuai dengan kelas dan kelompoknya masing-masing. Biasanya setiap asrama terdiri dari 4 kamar, dan setiap kamar biasanya diisi sampai 15 orang siswa. Sedangkan sekolah terdapat sekitar 20 asrama. 

            Hari itu sekolah ini mengadakan pembukaan untuk siswa baru. Dan saya ditunjuk untuk menjadi salah satu panitia yang mengurusi pendaftaran dikarenakan saya adalah anggota osis. Malam hari pun tiba, disaat semua manusia terlelap tidur dan terbuai oleh mimpi-mimpi mereka, terdegar olehku suara mobil masuk area parkir sekolah. Tak lama setelah itu terdengar seruan yang mengabarkan bahwa calon siswa baru yang berasal dari Indonesia datang. Tersentak kaget bercampur bahagia menyelimuti diriku. Ingin rasanya menyambut mereka, akan tetapi karena rasa kantuk yang begitu tajam menerpa tubuh ini, kuurungkan niat itu.

            Saat pagi menjelang, semburat sinar merah muncul di ufuk timur. Kulihat tamu yang dari Indonesia keluar dari ruang tamu. Kaget bercampur bingung setelah aku melihat mereka. Terdengar olehku bahwa yang datang orang Indonesia, akan tetapi yang kulihat adalah orang-orang yang mirip arab. Dan diantara mereka ada satu anak yang begitu manis. Beralis tebal, berkulit putih, dan berhidung mancung.  Setelah pagi menjelang, mentaripun menampakkan sosoknya. Kuberanikan diri untuk menyapanya. Waktu itu dia duduk dibawah papan pengumuman dengan mengenakan atasan biru langit dan bawahan putih dan memberi kesan dia tampak manis. Kuulurkan tangan kecil ini seraya berkata “ namanya siapa?”

Dengan sedikit malu dia menjawab,”Ali”

“ Kamu orang Indonesia?” kataku sembari kududuk disampingnya.

“ he em” jawabnya singkat.

“ Tinggal dimana di Indonesia?”

“ Di Ambon”

“ Asli Indonesia atau campuran?”

“ Ayah Turki sedangkan Ibu orang bugis.”

“ Ow pantes”  sedikit percakapanku bersamanya. Sebelum itu, saya memberitahukan bahwa sekolah ini hanya mengenal 2 bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Jadi keseharian siswa memakai 2 bahasa itu. Dan itu merupakan aturan sekolah. Namun disini saya mencoba untuk menselaraskan bahasa supaya tidak ribet.

            Setelah percakapan singkat itu rasa penasaran terus menghujamku. Ingin rasanya aku mencari semua informasi tentang dia. Rasa itulah yang mendorongku untuk membongkar data-data calon siswa baru yang berada dikantor. Dan kutemukan data tentangnya. Dia lahir dikota Istambul turki pada tanggal 14 april 1997. Dan dia tinggal masih dalam kota tempat sekolah kami berdiri. Orang tuanya mendapat tugas pekerjaan di sini, jadi mereka pindah untuk sementara.

            Semenjak saat itu, tak pernah lagi kubicara dengannya walau hanya sepatah kata. Semuanya tersibukkan oleh kegiatan masing-masing. Menjalani hari-hari diatas taqdir yang tertulis. Aku tak mau tahu kabar akannya. Sering aku melihatnya keluar asrama untuk menuju kelas. Tapi apa daya tubuh ini tak punya keinginan untuk menyapanya. Dalam kurun waktu 2 tahun semenjak kehadirannya ditempat ini, kita berdua hidup dalam kehidupan masing-masing. Dan menggoreskan pena memory dalam lubuk hati masing-masing.

            Bermula diawal tahun 2010 silam pada bulan maret. Ketika itu aku sedang memasak beberapa makanan dibagian logistik sekolah bersama dengan  beberapa orang karena ingin membuat acara pesta. Tak pernah aku sangka bahwa dia ikut tergabung dalam acara masak memasak itu. Malam itu suasana logistik dipenuhi canda dan tawa. Namun, kulihat dia diam dan kadang tertawa dengan penuh keterpaksaan. Dia begitu akrab dan bisa tertawa lepas dengan orang-orang yang berada didapur. Tapi tidak denganku. Dia diam seribu bahasa dan tak ada semburat senyum yang tersayang dari kedua bibirnya untukku. Sampai suatu ketika, terjadi sebuah moment yang bisa memunculkan senyum itu diwajahnya untukku. Yaitu saat aku terpeleset dan terjatuh didapur. Hal itu telah membuatnya tertawa lepas bersamaku dan itu membuatku bahagia. Senyum yang telah lama aku inginkan muncul telah kudapatkan.

            Mulai saat itu, dia mulai berbicara sedikit deni sedikit denganku. Kadang saat aku lewat di depannya,dia mendehem begitu keras sehingga aku menoleh dan mendapatinya tersenyum kearahku. Dan kadang dia menampakkan diri didepan kelasku ketika aku belajar dan memunculkan senyum itu kembali.

Bulan april 2010
S
emua siswa berwisata ke sebuah pantai pasir putih yang berada di kota Johor. Kebahagiaan begitu merasuk kedalam diri ini. Melepas kepengatan setelah beberapa kurun waktu selalu berkutat dengan buku-buku. Sesampainya di pantai, aku bermain bersama dengan sahabat-sahabatku yang satu kelas denganku. Kami bermain bola ditepi pantai dengan penuh canda dan tawa. Kulihat beberapa siswa bermain air dan akan menuju ke tengah laut dengan berlomba berenang. Kulihat sesosok anak cucu adam diantara mereka yang memakai kaos merah hati yang bertuliskan I LOVE MUSIC terpampang jelas didepan. Yah.., dia adalah Ali. Dengan beberapa kawan dia berenang.

            Disaat kumulai sendiri ditepian pantai. Duduk termenung melihat hijaunya laut, terdengar seruan orang yang memanggil namaku dari pantai. Dan setelah kulihat, itu adalah Ali dengan rambut dan badan yang basah serta kesunggingan senyum yang dia pancarkan untukku. Diapun melambaikan tangannya untuk berusaha menarik perhatianku. Disaat kumulai memperhatikanya, dia membusungkan dadanya yang basah dan memaparkan kaos yang dia kenakan, sehingga terlihat jelas tulisan yang ada pada kaosnya sambil dia menunjuk kearahnya. Awal ku bingung akan maksudnya. Akupun tersenyum dan menganggukkan kepala tanpa kutahu makna yang tersirat dari isyaratnya itu. Aku hanya tersenyum karena dia tersenyum. Dan aku mengangguk karena dia mengangguk. Keherananku bertambah ketika dia berteriak lepas dengan begitu girangnya setelah itu. Diapun berenang tanpa arah dengan teman-temannya. Namun, keheranan itu segera kulenyapkan dengan teman-temanku. Dan menghilangkan tanda tanya yang bersemayam dengan canda dan tawa. Kejadian itu tepat pada tanggal 14 april 2010, tepat dimana hari ulang tanhunnya yang ke 13.

            Setelah saat itu dia semakin dekat denganku. Hampir setiap waktu dia habiskan bersamaku. Dan setiap jam istirahat dia pasti mendatangiku. Semakin lama ita semakin dekat. Sampai kedekatan kita menjadi hal yang masyhur di sekolah sebagai sahabat sejati. Dimana ada diriku, pasti disana juga ada dia. Karena kedekatanku dengan dia membuat sebagian dari teman-temanku tidak menyukainya. Karena kita telah sepakat untuk tidak bergaul dengan anak-anak junior.

            Awal aku berpikir hubungan ini adalah hal yang wajar sebagai seorang sahabat yang sama-sama punya darah Indonesia yang berada di negeri orang. Kita bercanda, tertawa, bercerita, dan kadang kita juga bermain futsal dan basket bersama. Aku merasa bahwa ini adalah hal yang biasa. Dan merupakan hal yang masih dibatas kenormalan. Sampai suatu hari, perasaan ini menjadikanku bingung dalam kebimbangan.

            Saat itu…, dia berbincang-bincang dengan teman-teman seangkatanku yang notabene mereka adalah keturunan arab. Mereka terlihat bercanda ria dan tertawa lepas. Muncul dihatiku rasa yang tidak mengenakkan. Entah rasa apa itu. Namun, rasa itu segera kutepis dan mencari hal-hal yang bisa membuatku tertawa. Aku ingin hidupku sejalan dengan alur cerita yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Tidak berbelok dari kodrat yang Dia tetapkan pada manusia. Namun apadaya, qolam telah menuliskan perbedaan dalam kenyataan. Hal-hal berbalik paksa harus kudapatkan.

            Seiring dengan berjalannya waktu. Tidak terasa hubunganku dengan dia semakin erat. Akupun memberikanya baju sebagai hadiah untuknya yang aku beli ketika aku berkunjung ke Singapura. Aku berikan ketika hari libur. Ketika semua siswa satu angkatan dengannya pergi jalan-jalan dengan menggunakan bus. Saat mereka pulang, terdengar seruan begitu keras dengan memanggil namaku. Setelah kulihat, ternyata dia berada dipintu depan dan melambaikan tangan kearahku.

            Sebuah problematika hidup pasti menghampiri setiap manusia. Hal itulah yang dulu kuhadapi. Waktu itu adalah hari aktif belajar. Aku merasa ada yang kurang dihari itu. Hari dimana tak ada tawa dan canda yang biasa menghiasi hari-hariku.  Ketika jam istirahat, dia tidak nampak untuk menemuiku. Aku mencoba untuk encari kabar burung tentangnya. Aku melihat dia berbincang-bincang bersama teman-temnnya di aula sekolah. Ketika dia melihatku, dia memalingkan wajahnya dan kembali berbincang-bincang dengan teman-temannya. Melihat dia seperti itu, rasa berjuta rasa menyeruak masuk pada diri ini. Antara gundah dan bingung. Tapi kubiarkan rasa itu bersarang. Karena kupikir dia sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Dia mungkin butuh waktu untuk bersama teman-temannya seperti aku juga butuh untuk bersama dengan sahabatku yang lain.

            Waktu demi waktu kulalui. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari kedua bibirnya untukku. Tak ada lagi senyum yang merekah diwajahnya untukku. Diapun berusaha menghindar ketika berjumpa denganku. Rasa penasaranpun merajai kalbu ini. Akupun menulis sepucuk surat dan kutaruh di loker miliknya. Awal mula dia membacanya, namun kemudian dia membuangnya. Rasa kecewa pasti tercemai didalam sanubari. Tapi ada perasaan lega yang selalu menyelimuti karena aku telah mengutarakan maafku padanya. Setelah itu kuserahkan semua pada yang diatas. Ku telah pasrah dan ikhlas jika memang ini adalah jalanku.
(bersambung)

prakata

Kepada para pembaca yang saya hormati. Dengan segala kerendahan hati saya membuat blog ini untuk saling berbagi cerita pengalaman hidup. Hidup yang kita jalani memang penuh dengan lika-liku. Bagi para pembaca yang ingin mengirimkan ceritanya bisa dikirimkan ke email bagusfebriand@gmail.com.