Kepada para pembaca sekalian, perkenalkan saya bernama
lengkap Febriand Bagus Ar ridho, saya
dilahirkan dikota gudeg Jogjakarta pada tanggal 20 februari 1995, saya
dibesarkan dalam kehidupan yang berkecukupan. Sekarang saya mengenyam
pendidikan di bangku kuliah di salah satu kota di Indonesia. Cerita ini adalah
cerita nyata yang saya alami ketika saya
masih mengenyam pendidikan SMP sampai SMA, yang waktu itu saya mengenyam 2
pendidikan tersebut di Malaysia. Dikarenakan waktu itu kedua orang tua masih
tinggal disana.
Sebelum saya
memulai cerita ini, saya meminta maaf kepada para pembaca sekalian. Apabila
terdapat dalam tulisan ini kesalahan baik itu berupa tulisan atau kata-kata
yang kurang pas. Dan harap dimaklumi karena saya adalah penulis yang amatiran.
Maka dari itu saya sadar bahwa tulisan ini jauh dari kata sempurna. Dan juga
saya berharap kepada para pembaca untuk memberikan masukan kepada saya berupa
kritik dan saran yang dapat membuat saya kedepannya menjadi lebih baik lagi.
|
K
|
isah ini dimulai pada tahun 2008. Tepat diumurku yang ke-13
tahun. Saya duduk dibangku kelas 3 SMP (sebut saja begitu). Saya bersekolah di salah
satu sekolah islam internasional yang berada Malaysia. Sekolah tersebut
menggabungkan antara islam dan modern. Kebanyakan dari siswa yang berada di
sekolah tersebut adalah mayoritas warga Negara Malaysia, walau terdapat
sebagian yang berasal dari Indonesia termasuk saya, dan beberapa yang berasal
dari Brunai. Dan semua siswa yang berada
di sekolah tersebut adalah laki-laki tanpa ada sedikitpun perempuan didalamnya.
Semua siswa ditempatkan diasrama-asrama yang berbeda-beda sesuai dengan kelas
dan kelompoknya masing-masing. Biasanya setiap asrama terdiri dari 4 kamar, dan
setiap kamar biasanya diisi sampai 15 orang siswa. Sedangkan sekolah terdapat
sekitar 20 asrama.
Hari itu
sekolah ini mengadakan pembukaan untuk siswa baru. Dan saya ditunjuk untuk menjadi
salah satu panitia yang mengurusi pendaftaran dikarenakan saya adalah anggota
osis. Malam hari pun tiba, disaat semua manusia terlelap tidur dan terbuai oleh
mimpi-mimpi mereka, terdegar olehku suara mobil masuk area parkir sekolah. Tak
lama setelah itu terdengar seruan yang mengabarkan bahwa calon siswa baru yang
berasal dari Indonesia datang. Tersentak kaget bercampur bahagia menyelimuti
diriku. Ingin rasanya menyambut mereka, akan tetapi karena rasa kantuk yang
begitu tajam menerpa tubuh ini, kuurungkan niat itu.
Saat pagi
menjelang, semburat sinar merah muncul di ufuk timur. Kulihat tamu yang dari
Indonesia keluar dari ruang tamu. Kaget bercampur bingung setelah aku melihat mereka.
Terdengar olehku bahwa yang datang orang Indonesia, akan tetapi yang kulihat
adalah orang-orang yang mirip arab. Dan diantara mereka ada satu anak yang
begitu manis. Beralis tebal, berkulit putih, dan berhidung mancung. Setelah pagi menjelang, mentaripun
menampakkan sosoknya. Kuberanikan diri untuk menyapanya. Waktu itu dia duduk dibawah
papan pengumuman dengan mengenakan atasan biru langit dan bawahan putih dan
memberi kesan dia tampak manis. Kuulurkan tangan kecil ini seraya berkata “
namanya siapa?”
Dengan sedikit malu dia menjawab,”Ali”
“ he em” jawabnya singkat.
“ Tinggal dimana di Indonesia?”
“ Di Ambon”
“ Asli Indonesia atau campuran?”
“ Ayah Turki sedangkan Ibu orang bugis.”
“ Ow pantes” sedikit
percakapanku bersamanya. Sebelum itu, saya memberitahukan bahwa sekolah ini
hanya mengenal 2 bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Jadi keseharian
siswa memakai 2 bahasa itu. Dan itu merupakan aturan sekolah. Namun disini saya
mencoba untuk menselaraskan bahasa supaya tidak ribet.
Setelah
percakapan singkat itu rasa penasaran terus menghujamku. Ingin rasanya aku
mencari semua informasi tentang dia. Rasa itulah yang mendorongku untuk
membongkar data-data calon siswa baru yang berada dikantor. Dan kutemukan data
tentangnya. Dia lahir dikota Istambul turki pada tanggal 14 april 1997. Dan dia
tinggal masih dalam kota tempat sekolah kami berdiri. Orang tuanya mendapat
tugas pekerjaan di sini, jadi mereka pindah untuk sementara.
Semenjak
saat itu, tak pernah lagi kubicara dengannya walau hanya sepatah kata. Semuanya
tersibukkan oleh kegiatan masing-masing. Menjalani hari-hari diatas taqdir yang
tertulis. Aku tak mau tahu kabar akannya. Sering aku melihatnya keluar asrama
untuk menuju kelas. Tapi apa daya tubuh ini tak punya keinginan untuk
menyapanya. Dalam kurun waktu 2 tahun semenjak kehadirannya ditempat ini, kita
berdua hidup dalam kehidupan masing-masing. Dan menggoreskan pena memory dalam
lubuk hati masing-masing.
Bermula
diawal tahun 2010 silam pada bulan maret. Ketika itu aku sedang memasak
beberapa makanan dibagian logistik sekolah bersama dengan beberapa orang karena ingin membuat acara
pesta. Tak pernah aku sangka bahwa dia ikut tergabung dalam acara masak memasak
itu. Malam itu suasana logistik dipenuhi canda dan tawa. Namun, kulihat dia
diam dan kadang tertawa dengan penuh keterpaksaan. Dia begitu akrab dan bisa
tertawa lepas dengan orang-orang yang berada didapur. Tapi tidak denganku. Dia
diam seribu bahasa dan tak ada semburat senyum yang tersayang dari kedua
bibirnya untukku. Sampai suatu ketika, terjadi sebuah moment yang bisa
memunculkan senyum itu diwajahnya untukku. Yaitu saat aku terpeleset dan
terjatuh didapur. Hal itu telah membuatnya tertawa lepas bersamaku dan itu
membuatku bahagia. Senyum yang telah lama aku inginkan muncul telah kudapatkan.
Mulai saat
itu, dia mulai berbicara sedikit deni sedikit denganku. Kadang saat aku lewat
di depannya,dia mendehem begitu keras sehingga aku menoleh dan mendapatinya
tersenyum kearahku. Dan kadang dia menampakkan diri didepan kelasku ketika aku
belajar dan memunculkan senyum itu kembali.
Bulan april 2010
|
S
|
emua siswa berwisata
ke sebuah pantai pasir putih yang berada di kota Johor. Kebahagiaan begitu
merasuk kedalam diri ini. Melepas kepengatan setelah beberapa kurun waktu
selalu berkutat dengan buku-buku. Sesampainya di pantai, aku bermain bersama
dengan sahabat-sahabatku yang satu kelas denganku. Kami bermain bola ditepi
pantai dengan penuh canda dan tawa. Kulihat beberapa siswa bermain air dan akan
menuju ke tengah laut dengan berlomba berenang. Kulihat sesosok anak cucu adam
diantara mereka yang memakai kaos merah hati yang bertuliskan I LOVE MUSIC
terpampang jelas didepan. Yah.., dia adalah Ali. Dengan beberapa kawan dia
berenang.
Disaat kumulai sendiri ditepian
pantai. Duduk termenung melihat hijaunya laut, terdengar seruan orang yang
memanggil namaku dari pantai. Dan setelah kulihat, itu adalah Ali dengan rambut
dan badan yang basah serta kesunggingan senyum yang dia pancarkan untukku.
Diapun melambaikan tangannya untuk berusaha menarik perhatianku. Disaat kumulai
memperhatikanya, dia membusungkan dadanya yang basah dan memaparkan kaos yang
dia kenakan, sehingga terlihat jelas tulisan yang ada pada kaosnya sambil dia
menunjuk kearahnya. Awal ku bingung akan maksudnya. Akupun tersenyum dan
menganggukkan kepala tanpa kutahu makna yang tersirat dari isyaratnya itu. Aku
hanya tersenyum karena dia tersenyum. Dan aku mengangguk karena dia mengangguk.
Keherananku bertambah ketika dia berteriak lepas dengan begitu girangnya
setelah itu. Diapun berenang tanpa arah dengan teman-temannya. Namun, keheranan
itu segera kulenyapkan dengan teman-temanku. Dan menghilangkan tanda tanya yang
bersemayam dengan canda dan tawa. Kejadian itu tepat pada tanggal 14 april
2010, tepat dimana hari ulang tanhunnya yang ke 13.
Setelah saat itu dia semakin dekat
denganku. Hampir setiap waktu dia habiskan bersamaku. Dan setiap jam istirahat
dia pasti mendatangiku. Semakin lama ita semakin dekat. Sampai kedekatan kita
menjadi hal yang masyhur di sekolah sebagai sahabat sejati. Dimana ada diriku,
pasti disana juga ada dia. Karena kedekatanku dengan dia membuat sebagian dari
teman-temanku tidak menyukainya. Karena kita telah sepakat untuk tidak bergaul
dengan anak-anak junior.
Awal aku berpikir hubungan ini
adalah hal yang wajar sebagai seorang sahabat yang sama-sama punya darah
Indonesia yang berada di negeri orang. Kita bercanda, tertawa, bercerita, dan
kadang kita juga bermain futsal dan basket bersama. Aku merasa bahwa ini adalah
hal yang biasa. Dan merupakan hal yang masih dibatas kenormalan. Sampai suatu
hari, perasaan ini menjadikanku bingung dalam kebimbangan.
Saat itu…, dia berbincang-bincang
dengan teman-teman seangkatanku yang notabene mereka adalah keturunan arab. Mereka
terlihat bercanda ria dan tertawa lepas. Muncul dihatiku rasa yang tidak
mengenakkan. Entah rasa apa itu. Namun, rasa itu segera kutepis dan mencari
hal-hal yang bisa membuatku tertawa. Aku ingin hidupku sejalan dengan alur
cerita yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Tidak berbelok dari kodrat yang
Dia tetapkan pada manusia. Namun apadaya, qolam telah menuliskan perbedaan
dalam kenyataan. Hal-hal berbalik paksa harus kudapatkan.
Seiring dengan berjalannya waktu.
Tidak terasa hubunganku dengan dia semakin erat. Akupun memberikanya baju
sebagai hadiah untuknya yang aku beli ketika aku berkunjung ke Singapura. Aku
berikan ketika hari libur. Ketika semua siswa satu angkatan dengannya pergi
jalan-jalan dengan menggunakan bus. Saat mereka pulang, terdengar seruan begitu
keras dengan memanggil namaku. Setelah kulihat, ternyata dia berada dipintu
depan dan melambaikan tangan kearahku.
Sebuah problematika hidup pasti
menghampiri setiap manusia. Hal itulah yang dulu kuhadapi. Waktu itu adalah
hari aktif belajar. Aku merasa ada yang kurang dihari itu. Hari dimana tak ada
tawa dan canda yang biasa menghiasi hari-hariku. Ketika jam istirahat, dia tidak nampak untuk
menemuiku. Aku mencoba untuk encari kabar burung tentangnya. Aku melihat dia
berbincang-bincang bersama teman-temnnya di aula sekolah. Ketika dia melihatku,
dia memalingkan wajahnya dan kembali berbincang-bincang dengan teman-temannya. Melihat
dia seperti itu, rasa berjuta rasa menyeruak masuk pada diri ini. Antara gundah
dan bingung. Tapi kubiarkan rasa itu bersarang. Karena kupikir dia sedang sibuk
dan tidak bisa diganggu. Dia mungkin butuh waktu untuk bersama teman-temannya
seperti aku juga butuh untuk bersama dengan sahabatku yang lain.
Waktu demi waktu kulalui. Tak ada
sepatah katapun yang terucap dari kedua bibirnya untukku. Tak ada lagi senyum
yang merekah diwajahnya untukku. Diapun berusaha menghindar ketika berjumpa
denganku. Rasa penasaranpun merajai kalbu ini. Akupun menulis sepucuk surat dan
kutaruh di loker miliknya. Awal mula dia membacanya, namun kemudian dia
membuangnya. Rasa kecewa pasti tercemai didalam sanubari. Tapi ada perasaan
lega yang selalu menyelimuti karena aku telah mengutarakan maafku padanya.
Setelah itu kuserahkan semua pada yang diatas. Ku telah pasrah dan ikhlas jika
memang ini adalah jalanku.
(bersambung)
